Saya dan Solo

Saya belum pernah berkeliling Solo, tapi percayalah saya sering hanya sekedar mampir dan lewat. Hihi 🙂

Menginjak kelas tiga SMA, ayah dan ibu mengajak saya dan adik-adik berlibur di Jogja. Entah mengapa tak ke Solo, sungguh saat itu saya enggan bertanya macam-macam karena sejujurnya saya lelah sepulang study tour sekolah saya, ke Bali. Tiga hari dua malam di bus, dan sesampainya saya di rumah pagi itu, siangnya saya dan adik-adik langsung diboyong ke Jogja, bawa kendaraan pribadi pula. Bayangkan betapa lelahnya. Belasan tempat wisata berhasil kami kunjungi, namun tak ada satupun yang berhasil saya nikmati. Bukan karena tak menarik, tapi saya rasa tubuh sudah terlalu lelah untuk berlibur. Saya butuh istirahaaaaatttt, teriak saya dalam hati. Sampai akhirnya diperjalanan pulang, ibu memutuskan untuk mampir sejenak di pasar Klewer. Saya semakin menggerutu. Mobil kami diparkir di tengah lapangan luas. Adik-adik seperti anak ayam yang baru menetas, mengekor pada induknya. Saya yang sendiri di mobil memutuskan untuk turun, berkeliling sebentar, melihat-lihat. Masih terasa panas, padahal hari sudah sore menjelang petang. Saya bosan, tapi mereka tak kunjung datang. Lama sekali berbelanjanya, aku kembali menggerutu. Tak lama kemudian mereka datang juga. Saya ngedumel, namun ayah dan ibu hanya tersenyum. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur.

Saya rasakan kecepatan mobil mulai meninggi. Berarti sudah keluar dari tempat parkir, tebak saya sambil terus berusaha memejamkan mata. Namun kemudian terdengar suara decak kagum ayah, “Solo ini indah sekali ya di malam hari…. Kotanya rapih. Coba lihat,” kemudian disusul suara iya, eh, oh, dan gumaman tidak jelas dari ibu dan krucil-krucil itu. Saya tergoda untuk membuka mata. Dan kalian tahu apa? Memang sangat indah. Dan belakangan semenjak kuliah saya kerap membandingkan Depok dengan Solo. Depok yang semrawut di malam hari−terlebih di malam Sabtu, dibandingkan dengan Solo yang hening. Tak sepi, namun saya merasa damai diantara hiruk pikuk kehidupan Solo di malam hari. Gemerlap lampu-lampu pinggir jalan, menyatu dengan suasana Jawa yang amat kental dari bangunan di kanan-kiri jalan. Indah, sungguh indah 🙂

Perlahan saya mulai terhanyut dalam kedamaian. Tugu Muda menjadi saksi bisu pergolakan batin saya, bahwa kelak saya akan kembali ke sini, menikmati Solo dari setiap sisi indahnya. Kini, hampir tiga tahun sudah. Saya sudah berhijrah jauh dari kota kelahiran saya, menimba ilmu di ibukota. Namun ingatan saya tentang Solo tidak pernah pudar. Terlebih kini teman asal Solo, sesama musafir, kerap kali menceritakan pada saya keindahan demi keindahan yang tersimpan rapih di tanah kelahirannya. Mulai dari Solo Batik Carnival, Lawang Sewu, Simpang Lima…, bahkan hari ini pembicaraan tentang Sangiran dengan salah satu dosen tamu dari Institut Kesenian Jakarta kembali memancing emosi dan keinginan saya untuk menjadwalkan Solo sebagai destinasi liburan saya semester ini. Semoga dapat terlaksana. Semangat menabung, Ra! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s